Rua, Ruteng. Dalam Musyawarah Karya Kolping Ruteng pada 12 Mei 2025, Karolus Karus, pria kelahiran 1973 terpilih sebagai Ketua. Siapakah dia? Berikut sedikit perkenalan kisahnya.
Pak Karel, sapaannya, tak hanya dikenal sebagai guru dan Pengurus Paroki Rua, tetapi juga sebagai sosok yang telah menghidupkan denyut nadi Kolping di Karya Ruteng.
Sudah cukup lama Kraeng Karel memegang peran sebagai Ketua Keluarga Kolping Muda, dan di bawah kepemimpinannya, kegiatan-kegiatan sederhana tapi bermakna tumbuh dengan baik. Ada arisan bulanan yang membangun kebersamaan dan solidaritas, serta UBSP (Usaha Bersama Simpan Pinjam) yang menjadi ruang tumbuhnya kemandirian ekonomi anggota. Kegiatan ini bukan sekadar program rutin. Di balik setiap pertemuan, ada semangat mengelola, mencatat, dan memelihara harapan—semua dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Kami berusaha mengadministrasikan semuanya sebaik mungkin,” ujarnya suatu kali, dengan nada rendah tapi mantap. “Dan yang lebih penting, kami terus memotivasi anggota agar tetap semangat.”
Apa yang dilakukan Kraeng Karel bersama rekan-rekan Pengurus bukanlah kebetulan. Ia menyebut sosok inspiratif di balik semua ini adalah Beato Adolph Kolping sendiri. Baginya, Kolping bukan sekadar nama atau sejarah, tetapi panutan hidup. Ia percaya bahwa segala sesuatu akan berguna jika dijalankan dengan sungguh-sungguh dan konsisten. Prinsip itulah yang menjadi fondasi seluruh pengabdiannya—baik dalam organisasi, sekolah, maupun Gereja.
Sebagai guru, dia tahu persis bahwa nilai bukan hanya ada di atas kertas. Nilai sejati tumbuh dalam tindakan nyata—menjadi berkat bagi sesama, sekecil apa pun itu. Di paroki, ia terlibat aktif sebagai Pengurus Gereja, menjalankan berbagai pelayanan liturgi dan sosial. Ketika ditanya mengapa memilih untuk terlibat begitu banyak, jawabannya sederhana namun dalam:
“Saya berpikir bahwa diri kita akan bernilai kalau bisa berbuat dan membantu orang lain.”

Kini, sebagai Ketua Kolping Ruteng, dia tidak berhenti bermimpi. Lima tahun ke depan, ia bersama tim Pengurus Karya merancang fokus karya yang konkret: penambahan jumlah anggota, pendataan administrasi yang lebih tertib, serta pengembangan karya sosial. Tiga hal ini diharapkan mampu menjangkau lebih banyak orang dan memperkuat dampak kehadiran Kolping di tengah masyarakat Ruteng.
Di balik segala kesibukannya, ia tetap tampil sederhana. Tapi siapa pun yang mengenalnya tahu: pria ini memiliki kekuatan yang lahir dari konsistensi. Bukan sorotan atau jabatan yang ia cari, tetapi perubahan kecil yang nyata. Dan dari Ruteng, bersama Kolping, Karolus Karus terus melangkah—pelan tapi pasti—mewujudkan cita-cita Kolping: membangun manusia, menumbuhkan harapan.
Dan di balik semua itu, ada satu akar yang turut menguatkannya: semangat falsafah Lodok—tata ruang dan nilai hidup orang Manggarai yang berpusat pada keadilan, keteraturan, dan kebersamaan. Seperti pola Lodok yang melingkar dan adil, Karolus memandang setiap orang punya tempat dan peran. Kolping, baginya, adalah ruang bersama tempat semua anggota bertumbuh, saling menopang, dan melangkah dalam harmoni. Karena hidup yang bermakna bukan sekadar tentang menjadi pusat, tapi tentang menjadi bagian yang menyatu dalam lingkar kebaikan.
Selamat Bertugas! Bapa Kolping selalu mendoakan!